PROFIL

  • HOME

Rabu, 19 November 2014

SEMINAR MENITI JALAN KEPUSTAKAWANAN



Tema :MENITI JALAN KEPUSTAKAWANAN
Pemateri : BLASIUS SUDARSONO (Pembelajar pada Kappa Sigma Kappa INDONESIA)
Waktu:  Malang, 20 November 2014
Kepustakawan tidak berbicara tentang kemampuan namun dengan kemaun, dari kemauan ini kita harus meningkatkan kemampuan untuk menjadi pustakawan, Kita biasnya mempelajari perpustakaan dari bagaimana, padahal apa itu perpustakaan? mengapa anda memilih menjadi perpustakaan adalah dasar mencintai perpustakaan. perjalanan saya yaitu  meniti jalan kepustakawanan, karena jalan itu tidak sederhana, jalan kepustakawanan adalah jalan yang semula asing dan tidak dikenal, sejak awal sudah memunculkan beragam pertanyaan, ternyata menimbulkan obsesi yang belum usai sampai kini.Merumuskan dasar berpikir merumuskan dasar berfikir melalui interaksi antara kemauan dan kemampuan, kemauan dijiwai filsafat kepustakawanan, kemampuan berfondasi pada logika dokumentasi dan interaksi keduanya akan menghasilkan mutu pustakawan.

logika dokumentasi
Pada awal mula adalah kehendak manusia untuk mengekspresikan apa yang dipikirkan dan atau dirasakannya (1992), Jika ada pihak lain yang berada pada tempat dan waktu yang sama maka ekspresi itu menjadi komunikasi, jika tidak ada pihak yang menerima ekspresi itu pada saat yang sama maka perlu upaya untuk menyimpan sementara ekspresi  agar dapat disampaikan kemudian, Simpanan atau rekaman sementara ini untuk waktu yang tak berhingga menjadi simpanan atau rekaman abadi dngan kata lain penggal waktu ”sementara” itu menjadi ”tak berhingga” adalah konsep abadi maka proses dokumentasi dapat juga dikatakan sebagai proses pengabadian

Kepustakawanan Indonesia
Seminar ini diselenggarakan untuk menganatisipasi pemberlakuan asia free trade area pada tahun 2015, diharapkan akan ada pembahasan kurikulum pendidikan formal calon pustakawan tentang perguruan tinggi. Seminar ini tentang bagaimana perjalanan ini dilakukan
Empat pilar penyangga yaitu:
a.      Kepustakawanan merupakan panggilan hidup
b.     Kepustakawanan merupakan semangat hidup
c.      Kepustakawanan merupakan karya pelayanan
d.     Kepustakawanan merupakan profesional
Lima daya utama yaitu:
a.      Berpikir kritis, analitis dan kritis
b.     Berkemampuan membaca
c.      Berkemampuan menulis
d.     Berkemampuan wirausaha
e.      Menjunjung etika
Tiga sasaran yaitu:
a.      Menjadi cerdas (bright)
b.     Menjadi kaya (rich)
c.      Menjadi benar (right)
Tujuan akhir
Manusia paripurna berguna bagi sesama
Pola pikir triadik ( kebertigaan )
Pendekatan triadik :
1.     Berpikir logis, analisis, dan kritis
2.     Hidup dalam konsep ruang dan waktu
3.     Berpendekatan sistematik
Itu semua adaalah tiga elemen pendekatan berpikir yang dilakukan Blasius Sudarsono.
Beliau menyodorkan janji pustakawan muda Indonesia yang berbunyi:
Janji Pustakawan Muda Indonesia
Kmi calon pustakawan dan pustakawan muda Indonesia
Mengaku berprofesi sebagai pustakawan indonesi yang adalah warga bangsa dan negara indonesia.
Kami calon pustakawan dan pustakawan muda Indonesia
Sebagai profesional senantiasa berusaha memahami, mengahayati, dan mengembangkan jati diri pustakawan indonesia, berkarya bagi bangsa dan negara indonesia, untuk mencapai cita-cita bangsa dan negara indonesia
Kami calon pustakawan dan pustakawan muda Indonesia
Mewaspadai, menolak, dan memberantas segala hal yang merugikan bahkan dapat mengahancurkan bangsa dan negara indonesia.

Pustakawan  Dan Kepustakawanan

Pengertian tentang pustakawan diatur dalam undang-undang nomr 43 tahun 2007 tentang perpustakaan. Pustakawan adalah mahkluk hidup yang disebut sebahai manusia. Pustakawan  adalah peribadi. sehingga dapat diharapkan ada kesetaraan konsep pustakawan dan kepustakawanan dengan konsep pribadi dan kepribadian. Logikanya pemikiran driyakara tentang pribadi dan kepribadian berlaku juga untuk konsep pustakawan dan kepustakawanan. Organisasi profesi pustakawan di indonesia sudah memiliki kode etik. Sayangnya sosialisasi belum menyebar luas, kode etik pustakawan masih asing ditelinga pustakawan Indonesia. Idealnya berbagai organisasi profesi perpustakaan yang ada perlu bersama bersepakat. Kode etika profesi termasuk ranah etika terapan sebuah upaya untuk mengatur tingkah laku moral suatu kelompok khusus melalui ketentuan tertulis yang diharapkan akan diprgang teguh oleh seluruh kelompok itu. Profesi adalah suatu moral komunitasDengan demikian profesi menjadi suatu kelompok yang mempunyai kekuasaan tersendiri dan karena itu mempunyai tangung jawab khusus. Karena memiliki monopoli atas suatu keahlian tertentu, selalu ada bahaya profesi menutup diri bagi orang luar dan menjadi suatu kalangan yang suka ditembus. bagi klaien yang mengunakan jasa tertentu seperti itu dapat mengakibatkan kecurigaan dipermainkan. Kode etik dapat mengimbangi segi negatif profesi karena berkaiatan dengan etika dalam melakukan pekerjaan.
Epilog
Posisi awal kita sebagai pustakawan adalah hasil pembelajaran dalam dalam menyiapkan diri menjadi pustakawan. Kewajiban lembaga pendidikan harus menjawab posisi  bagi lulusan mereka. Paling tidak lembaga memberikan mengenalkan medan dan berantara perpustakaan. Pemahaman akan paham yang terletak pada dua eksterem menjadi focus pengajaran. Paham anatara ini adalah aliran eksistensialisme. Epilog ini sebagai sebuah pengantar untuk memulai diskusi bekelanjutan tentang kepustakawanan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar